Home

Tampilkan postingan dengan label kisah sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah sukses. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Mei 2010

Kisah Sukses pengusaha Depot air minum isi ulang.

Posted by Arfiyan Setiawan | On: , | 2 komentar
Jika diminta bercerita contoh contoh keberhasilan suatu depot air isi ulang - khususnya pengunjung setia airminumisiulang.com - dari sekian banyak yang diceritakan via telepon, email dan SMS, maka saya akan mengisahkan keberhasilan Bpk Erwin Rani, SE yang dikirimkan kepada saya via SMS.

Kisah bapak Erwin Rani, SE saya muat disini atas persetujuan beliau :

Assalamualaikum,
Terima kasih atas perhatian bapak, jujur pak usaha saya masih merangkak, belum cukup 3 bulan. Sebelumnya usaha saya sudah berjalan selama 4 tahun dengan tingkat penjualan pada grafik cenderung menurun seiring dengan pertambahan Depo di Kabubaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Alhamdulillah setelah ada perombakan struktural manajemen pemasaran yang efektif yang tentunya didukung oleh ilmu dan pengalaman yang di sharing kan di website www.airminumisiulang.com, penjualan air minum isi ulang saya meningkat drastis dari tanggal 15 Oktober s/d 15 November 2008 dari rata rata 8 galon/hari menjadi 31 galon/hari ( peningkatan rata rata 390% ) dan penjualan tertinggi dicapai tgl 12 November 2008 dengan penjualan 90 galon ( peningkatan 1100% dari 8 galon menjadi 90 galon ).

Pada hari itu saya rental mobil Pick Up setengan hari, selebihnya saya menggunakan 2 buah armada sepeda motor dengan 3 orang karyawan yang Full Time ( dari subuh hingga jam 5 sore ) dan 3 orang karyawan 1/2 hari kerja dan kadang kadang lembur sampai malam untuk bagian produksi ( pencucian dan pengisian galon ). Hari kerja pagi sampai sore lebih banyak untuk bagian distribusi / permasaran saja.

Semoga tulisan ini bisa menjadi motivasi teman teman, kerabat dan saudara yang tersebar di seluruh Indonesia baik yang bergerak di bidang usaha air minum isi ulang ataupun usaha / profesional apa saja. Bahwa apa yang kita jual itu sebenarnya bisa laku keras, tergantung dari antusias ( semangat, aura ) dari pemimpin yang bisa menjadi teladan untuk staf dan karyawan. Saya pribadipun menjalankan usaha dengan terseok seok tanpa adanya bantuan modal. bahkan saya sampai jual barang saya pada teman untuk memenuhi tuntutan pasar.

TataWaterCorp belum sampai pada tahap sukses bahkan masih sangat jauh dari target awal. Meskipun begitu saya bersyukur kepada Allah SWT yang maha besar, maha kaya dan maha sempurna atas karunia Nya.

Wassalam

Dari Erwin Rani,SE
Manager Tata Water Corporation
Email : erwinrani@ymail.com
http://tatawatercorp.indonetwork.co.id
Murid dari Guru www.airminumisiulang.com

( Dari M. Yusuf: sebenarnya saya juga masih belajar dan belum pantas disebut Guru, masih banyak orang yang lebih hebat dari saya...... )

Demikian kisah dari Bpk Erwin Rani,SE yang penjualannya meningkat drastis. Kini, bagaimana dengan anda ???

KISAH SUKSES PENGUSAHA BURGER

Posted by Arfiyan Setiawan | On: , | 0 komentar
Lulusan STM bangunan ini mengawali bisnisnya hanya dengan dua gerobak. Kini, ia memiliki 10 pabrik dan 2.000 outlet Edam Burger yang tersebar di seluruh Indonesia. Segalanya tentu tak mudah diraih. Bahkan, ia pernah menjalani hidup yang keras di Jakarta.

(Di rumah mungil di kawasan Perumnas Klender, Jakarta Timur, belasan pegawai berkaus merah kuning terlihat sibuk. Roti, daging, sosis, hingga botol-botol saus kemasan bertuliskan Edam Burger disusun rapi dalam wadah-wadah plastik siap edar. Seorang lelaki bercelana pendek berhenti bekerja, lalu keluar menyambut NOVA.

Pembawaannya sederhana, tak ubahnya seperti pegawai lain. Sambil tersenyum hangat, ia pun memperkenalkan diri. “Aduh maaf, ya, saya tidak terbiasa rapi, hanya pakai oblong dan celana pendek,” tutur Made Ngurah Bagiana, sang pemilik Edam Burger. Beberapa saat kemudian, Made bercerita.)

Terus terang, saya suka malu dibilang pengusaha sukses yang punya banyak pabrik dan outlet. Bukan tidak mensyukuri, tapi saya hanya tak mau dicap sombong. Saya mengawali semua usaha ini dengan niat sederhana: bertahan hidup. Makanya, sampai sekarang saya ingin tetap menjadi orang yang sederhana. Sesederhana masa kecil saya di Singaraja, Bali.

Orang tua memberi saya nama Made Ngurah Bagiana. Saya lahir pada 12 April 1956 sebagai anak keenam dari 12 bersaudara. Sejak kecil, saya terbiasa ditempa bekerja keras. Malah kalau dipikir-pikir, sejak kecil pula saya sudah jadi pengusaha. Bayangkan, tiap pergi ke sekolah, tak pernah saya diberi uang jajan. Kalau mau punya uang, ya saya harus ke kebun dulu mencari daun pisang, saya potong-potong, lalu dijual ke pasar.

Menjelang hari raya, saya pun tak pernah mendapat jatah baju baru. Biasanya, beberapa bulan sebelumnya saya memelihara anak ayam. Kalau sudah cukup besar, saya jual. Uangnya untuk beli baju baru. Lalu, sekitar usia 10 tahun, saya harus bisa memasak sendiri. Jadi, kalau mau makan, Ibu cukup memberi segenggam beras dan lauk mentah untuk saya olah sendiri.

PENSIUN JADI PREMAN

Begitulah, hidup saya bergulir hingga menamatkan STM bangunan tahun 1975. Bosan di Bali, saya pun merantau ke Jakarta tanpa tujuan. Saya menumpang di kontrakan kakak saya di Utan Kayu. Untuk mengisi perut, saya sempat menjadi tukang cuci pakaian, kuli bangunan, dan kondektur bis PPD.

Kerasnya kehidupan Jakarta, tak urung menjebloskan saya pada kehidupan preman. Bermodal rambut gondrong dan tampang sangar, ada-ada saja ulah yang saya perbuat. Paling sering kalau naik bis kota tidak bayar, tapi minta uang kembalian. (Sambil berkisah, Made terbahak tiap mengingat pengalaman masa lalunya. Berulang kali ia menggeleng, lalu membenarkan letak kacamatanya).

Toh, akhirnya saya pensiun jadi preman. Gantinya, saya berjualan telur. Saya beli satu peti telur di pasar, lalu diecer ke pedagang-pedagang bubur. Ternyata, usaha saya mandeg. Saya pun beralih menjadi sopir omprengan. Bentuknya bukan seperti angkot ataupun mikrolet zaman sekarang, masih berupa pick-up yang belakangnya dikasih terpal. Saya menjalani rute Kampung Melayu – Pulogadung – Cililitan.

Tahun 1985, saya pulang ke kampung halaman. Pada 25 Desember tahun itu, saya menikah dengan perempuan sedaerah, Made Arsani Dewi. Oleh karena cinta kami bertaut di Jakarta, kami memutuskan kembali ke Ibu Kota untuk mengadu nasib. Kami membeli rumah mungil di daerah Pondok Kelapa. Waktu itu saya bisnis mobil omprengan. Awalnya berjalan lancar, tapi karena deflasi melanda tahun 1986-an, saya pun jatuh bangkrut. Kerugian makin membengkak. Saya harus menjual rumah dan mobil. Lalu, saya hidup mengontrak.

NYARIS TERSAMBAR PETIR

Titik cerah muncul di tahun 1990. Saya pindah ke Perumnas Klender. Tanpa sengaja, saya melihat orang berjualan burger. Saya pikir, tak ada salahnya mencoba. Saya nekad meminjam uang ke bank, tapi tak juga diluluskan. Akhirnya saya kesal dan malah meminjam Rp 1,5 juta ke teman untuk membeli dua buah gerobak dan kompor.

Bahan-bahan pembuatan burger, seperti roti, sayur, daging, saus, dan mentega, saya ecer di berbagai tempat. Dibantu seorang teman, saya menjual burger dengan cara berkeliling mengayuh gerobak. Burger dagangannya saya labeli Lovina, sesuai nama pantai di Bali yang sangat indah.

Banyak suka dan duka yang saya alami. Susahnya kalau hujan turun, saya tak bisa jalan. Roti tak laku, Akhirnya, ya, dimakan sendiri. Masih untung karena istri saya bekerja, setidaknya dapur kami masih bisa ngebul. Pernah juga gara-gara hujan, saya nyaris disambar petir. Ketika itu saya tengah memetik selada segar di kebun di Pulogadung. Tiba-tiba hujan turun diiringi petir besar. Saya jatuh telungkup hingga baju belepotan tanah. Rasanya miris sekali.

Di awal-awal saya jualan, tak jarang tak ada satu pun pembeli yang menghampiri, padahal seharian saya mengayuh gerobak. Mereka mungkin berpikir, burger itu pasti mahal. Padahal, sebenarnya tidak. Saya hanya mematok harga Rp 1.700 per buah. Baru setelah tahu murah, pembeli mulai ketagihan. Dalam sehari bisa laku lebih dari 20 buah.

Untuk mengembangkan usaha, saya mengajak ibu-ibu rumah tangga berjualan burger di depan rumah atau sekolah. Mereka ambil bahan dari saya dengan harga lebih murah. Sungguh luar biasa, upaya saya berhasil. Dalam dua tahun, gerobak burger saya beranak menjadi lebih dari 40 buah. Saya pun pensiun menjajakan burger berkeliling dan menyerahkan semua pada anak buah.

Tak berhenti sampai di situ, tahun 1996 saya mencoba membuat roti sendiri dan membuat inovasi cita rasa saus. Seminggu berkutat di dapur, hasilnya tak mengecewakan. Saya berhasil menciptakan resep roti dan saus burger bercita rasa lidah orang Indonesia. Rasanya jelas berbeda dengan burger yang dijual di berbagai restoran cepat saji.

Sumber : http://cepiar.wordpress.com/2007/11/10/kisah-sukses-pengusaha-burger/

Kisah Sukses Seorang Pengusaha Tas

Posted by Arfiyan Setiawan | On: , | 0 komentar
Bercita-cita menjadi seorang pengusaha sukses dan memiliki banyak harta yang melimpah tentunya menjadi keinginan setiap orang. Tidak mustahil, itu semua tentu saja bisa menjadi kenyataan asalkan dibarengi dengan usaha dan do'a. sebagai contoh kita lihat para pengusaha lokal yang sukses merintis perusahaannya dari 0 (nol), perusahaan yang mereka miliki sekarang ini bukanlah warisan dari dari orangtuanya, tetapi murni hasil dari kerja keras dirinya sendiri. Mungkin sepenggal kisah pengusaha tas asal Bandung yang satu ini bisa menginspirasi Anda untuk menjadi seorang entrepreuneur yang sukses. yuk, langsung saja kita simak penggalan kisahnya.

Rony Lukito, pengusaha tas terbesar di Indonesia ini dulunya adalah seorang anak dari keluarga yang memperihatinkan. Orangtuanya bukanlah dari kaum berada. Dimasa remajanya Rony yang tinggal di Bandung adalah sosok pemuda yang rajin dan tekun, dia bukan seorang lulusan perguruan tinggi negeri atau pun perguaruan tinggi swasta terfavorit. Melainkan dia hanyalah seorang lulusan STM (Sekolah Teknologi Menengah), meskipun sebenarnya dia sangat ingin sekali melanjutkan study-nya di salah satu perguruan tingggi swasta terfavorit di Bandung. Namun keinginannya itu tidak menjadi kenyataan karena harus terbentur masalah keuangan.

Semenjak bersekolah di STM Rony sudah terbiasa berjualan susu yang dibungkus dengan plastik-plastik kecil, diikat dengan karet, kemudian susu tersebut ia jual kerumah-rumah tetangganya dengan menggunakan sepeda motor miliknya. Masa remaja Rony di Bandung dilewati dengan penuh kesederhanaan yang jauh dari kehidupan serba ada apalagi yang disebut kehidupan glamour. Sesuatu yang tidak berlebihan jika banyak orang yang mengatakan bahwa keberhasilan itu memang akan selalu berpihak kepada orang-orang yang mau bekerja keras dan sungguh-sungguh ingin merubah nasibnya. Demikian pula Rony yang sejak remaja biasa bekerja, kini ia berhasil menjadi pengusaha sukses di bisnis tas berkat serangkaian usaha dan kerja kerasnya. Tidak salah memang jika Rony dikatakan sebagai seorang pengusaha tas terbesar di Indonesia.

Itu memang bukan kalimat yang berlebihan, lihat saja produk yang di hasilkan dari perusahaan Rony, B&B Incorporations (B&B Inc.) merajai pasar tas yang ada di Indonesia. Para pengunjung taktiku tentu kenal dengan merek-merek tas yang sudah populer ini, seperti: Eiger, Export, Neosack, Bodypack, Nordwand, Morphosa, World Series, Extrem, Vertic, Domus Danica, Broklyn dll. Mungkin merek tersebut dikalangan anak sekolah dan kuliahan sudah tidak asing lagi, yang memang produk-produk hasil perusahaan Rony sengaja di targetkan untuk kalangan pelajar.

Semua merek tas tersebut di distribusikan secara nasional, sehingga wajar bila merek dagangnya sudah sangat terkenal. Produk Rony juga tersedia di berbagai outlet modern seperti Toserba Ramayana, Matahari Departemen Store, Robinson, dan berbagai hypermart seperti Carrefour, hingga jaringan toko-toko buku seperti Gramedia, dan Gunung Agung belum lagi toko-toko dan grosir tradisional lainnya.

hmmm... luar biasa bukan ?. Bagaimana, apakah Anda sudah tertarik untuk menjadi seorang entrepreuneur? :) Perusahaan Rony murni dari hasil kerja kerasnya sendiri, bukanlah warisan dari orangtuanya.

Sumber: Buku 10 pengusaha yang sukses membangun bisnis dari 0

Kisah Sukses Pengusaha Warnet

Posted by Arfiyan Setiawan | On: , | 0 komentar
Dipenghujung tahun 2007 seorang teman dengan tekad bulat membuka sebuah warung internet yang berlokasi dipinggir jalan yang tidak begitu ramai. Lokasi itu tepatnya disebuah gang yang hanya bisa dilalui oleh dua buah mobil sedan, dan tak jauh dari situ terdapat sebuah sekolah SMK.

Di daerah itu internet memang belum begitu memasyarakat. Maklumlah daerah kecil dan agak jauh dari pusat kota. Dengan bermodalkan dua buah komputer pentium 4 lawas plus dua monitor cembung yang ditopang oleh koneksi dari Speedy beliau mulai membuka usahanya.

“Dibulan-bulan pertama keuntungan tidaklah terlalu besar. Bahkan bisa break event point saja sudah alhamdulillah”, dia menuturkan padaku via telepon waktu itu. “Namun berkat promosi ‘ala kadarnya’ dan semangat pantang menyerah, semakin hari semakin banyak anak-anak sekolah yang datang ke warnetku”.

Dia menyadari tidak mudah bertahan dalam usaha warnet ini. Koneksi yang lambat plus komputer yang sering rewel membuat dia sering ‘dimaki’ oleh para langganannya. Namun berkat bantuan seorang teman lama yang sudah tamat kuliah di Bandung dan mengajar pada SMK tersebut, semua kendala bisa diatasi.

“Memasuki bulan tahun pertama saya sudah bisa mengandalkan pendapatan dari usaha ini dan kini setelah memasuki tahun kedua komputer di warnetku sudah berjumlah 20 unit, dan bukannya sombong sob, pendapatan rata-rata warnetku sekarang ini adalah 15 juta net perbulan”. Katanya penuh semangat.

Subhanallah.. 15 juta perbulan? 20 unit PC? Masih bujangan, rajin sholat lagi! Aku terdiam. Mataku menatap kosong jauh ke depan.

Terbayang dalam ingatanku saat dulu kami menempati ruangan persegi empat yang pengap. Sering tidak makan karena kiriman dari kampung datang terlambat. Sering mendatangi rumah Susi untuk minta sepiring nasi yang kami santap berdua bersama dua buah kerupuk rambak.

Kini, setalah kami dewasa dan jauh terpisah, banyak perubahan yang terjadi.

Aku seperti jalan ditempat. Tertinggal jauh dari langkah-langkah cepat para sahabat. Bagaimana dengan sobat sekalian?? Mudah-mudahan kalian sukses juga.